Ayah Bunda, kelahiran buah hati adalah anugerah luar biasa dari Allah SWT. Rasa syukur yang begitu besar tentu ingin diwujudkan dalam bentuk ibadah terbaik, salah satunya adalah aqiqah. Namun, sering muncul pertanyaan: bagaimana cara melaksanakan aqiqah yang benar sesuai sunnah?
Memahami hadits tentang aqiqah menjadi kunci utama agar ibadah ini tidak sekadar tradisi, tetapi benar-benar bernilai pahala di sisi Allah SWT. Aqiqah bukan hanya penyembelihan hewan, melainkan bentuk ketaatan, rasa syukur, dan pengharapan keberkahan bagi masa depan sang anak.
Artikel ini akan membahas dalil dan hadits tentang aqiqah secara lengkap agar Ayah Bunda semakin mantap dalam menunaikannya.
Hukum Aqiqah dalam Islam Berdasarkan Hadits
Secara bahasa, aqiqah berarti memotong. Dalam istilah syariat, aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak, yang dilakukan pada hari ketujuh disertai mencukur rambut dan pemberian nama.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).
Landasan utamanya berasal dari beberapa hadits tentang aqiqah yang shahih. Rasulullah SAW sangat menganjurkan ibadah ini sebagai bentuk tanggung jawab orang tua kepada anaknya.
Melaksanakan aqiqah berarti menghidupkan sunnah Nabi, sedangkan meninggalkannya tanpa alasan syar’i tentu menjadi sebuah kerugian.
Hadits Tentang Jumlah Hewan Aqiqah
Salah satu pertanyaan paling umum adalah: berapa jumlah kambing untuk aqiqah?
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:
“Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu kambing.”
(HR. Tirmidzi no. 1513, Ibnu Majah no. 3163)
Hadits tentang aqiqah ini menjelaskan bahwa:
- Anak laki-laki: 2 kambing
- Anak perempuan: 1 kambing
Namun para ulama juga membolehkan satu kambing untuk anak laki-laki jika kondisi tidak memungkinkan. Islam adalah agama yang memudahkan.
Hadits Tentang Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah?
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasa’i no. 4220, Ibnu Majah no. 3165)
Hadits tentang aqiqah ini menjelaskan tiga sunnah utama pada hari ketujuh:
- Penyembelihan hewan aqiqah
- Mencukur rambut bayi
- Memberikan nama
Jika hari ketujuh terlewat, sebagian ulama membolehkan hari ke-14 atau ke-21. Bahkan jika belum diaqiqahi hingga dewasa, orang tua atau anak tersebut tetap boleh melaksanakannya ketika mampu.
Makna “Tergadai” dalam Hadits Aqiqah
Dalam hadits disebutkan bahwa anak “tergadai” dengan aqiqahnya. Para ulama menjelaskan maknanya sebagai:
- Anak terhalang dari memberikan syafaat bagi orang tuanya
- Belum sempurna keberkahannya hingga diaqiqahi
Aqiqah menjadi bentuk penebusan dan doa awal bagi kehidupan sang anak. Dengan melaksanakan aqiqah sesuai hadits tentang aqiqah, orang tua telah memulai perjalanan hidup anak dengan ibadah dan keberkahan.
Bolehkah Mengaqiqahi Diri Sendiri?
Terdapat riwayat bahwa Rasulullah SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi (HR. Baihaqi). Meski status hadits ini diperselisihkan, sebagian ulama membolehkan seseorang mengaqiqahi dirinya sendiri jika belum diaqiqahi orang tuanya.
Hal ini menunjukkan keluasan syariat Islam yang memberikan kesempatan untuk tetap menjalankan sunnah meskipun waktu utama telah terlewat.
Pentingnya Memilih Layanan Aqiqah yang Sesuai Sunnah
Ayah Bunda, memahami hadits tentang aqiqah adalah langkah awal. Namun pelaksanaannya juga harus benar:
- Hewan harus sehat dan sesuai syariat
- Penyembelihan dilakukan oleh juru sembelih halal
- Proses pengolahan higienis
- Distribusi tepat sasaran
Di tengah kesibukan mengurus si kecil, proses ini tentu tidak mudah.
Karena itu, Aqiqah Nurul Hayat hadir membantu Ayah Bunda menunaikan aqiqah dengan mudah, praktis, dan sesuai sunnah. Mulai dari pemilihan hewan, penyembelihan syar’i, pengolahan masakan, hingga pendistribusian ke panti asuhan atau kaum dhuafa — semua ditangani profesional.
Dengan begitu, Ayah Bunda bisa lebih tenang karena aqiqah sang buah hati telah tertunaikan sesuai tuntunan hadits dan syariat Islam.
Segera konsultasikan kebutuhan aqiqah Ayah Bunda bersama tim Aqiqah Nurul Hayat.