Setiap kelahiran buah hati adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Kebahagiaan yang hadir tentu ingin kita balas dengan rasa syukur terbaik. Dalam Islam, salah satu bentuk syukur tersebut adalah menunaikan aqiqah.
Namun, masih banyak Ayah Bunda yang bertanya, bagaimana sebenarnya hukum aqiqah dalam Islam? Apakah wajib? Ataukah hanya anjuran?
Mari kita pahami bersama secara lengkap berdasarkan dalil dan penjelasan para ulama.
Sebelum membahas hukum aqiqah dalam Islam, kita perlu memahami maknanya.
Secara bahasa, kata ‘aqqu berarti “memotong”. Makna ini merujuk pada:
Secara istilah syar’i, aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak, yang dilakukan dengan niat ibadah dan mengikuti ketentuan tertentu.
Beberapa ulama menjelaskan:
Dari sini jelas bahwa aqiqah bukan sekadar tradisi, tetapi ibadah yang memiliki dasar syariat.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah dalam Islam adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.
Pendapat ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutnya).”
(HR. Ahmad, Al-Bukhari, dan Ashhabus Sunan)
Namun ada hadits lain yang menunjukkan bahwa aqiqah tidak bersifat wajib mutlak:
“Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih bagi anaknya, maka silakan lakukan.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai)
Kalimat “ingin menyembelih” menunjukkan sifat anjuran, bukan kewajiban.
Jadi, kesimpulannya:
✅ Hukum aqiqah dalam Islam adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu.
Dalam pembahasan hukum aqiqah dalam Islam, waktu pelaksanaan juga penting.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”
(HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh At-Tirmidzi)
Waktu yang disunnahkan:
Apabila belum terlaksana pada waktu tersebut, aqiqah tetap boleh dilakukan kapan saja ketika orang tua mampu.
Dalam hukum aqiqah dalam Islam, tanggung jawab utama berada pada orang tua, khususnya ayah sebagai penanggung nafkah.
Namun, jika hingga dewasa belum diaqiqahi karena keterbatasan orang tua, maka anak boleh mengaqiqahi dirinya sendiri ketika mampu.
Syaikh Shalih Al-Fauzan menyatakan bahwa hal tersebut tidak mengapa dan diperbolehkan.
Hewan aqiqah harus memenuhi syarat seperti hewan kurban:
✔ Sehat dan tidak sakit
✔ Tidak cacat (tidak buta, pincang, atau terlalu kurus)
✔ Cukup umur
Jenis hewan yang diperbolehkan:
Namun berbeda dengan kurban, aqiqah tidak boleh berserikat. Jika menggunakan sapi atau unta, maka hewan tersebut hanya untuk satu anak saja.
Dalam hukum aqiqah dalam Islam, jumlah hewan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan:
Jika orang tua hanya mampu satu ekor untuk anak laki-laki, maka itu tetap sah.
Pembagian daging aqiqah lebih fleksibel dibandingkan kurban.
Daging aqiqah disunnahkan:
Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa tidak mengapa mengundang kerabat dan tetangga untuk menikmati hidangan aqiqah.
Bahkan jika seluruhnya ingin disedekahkan, hal itu juga diperbolehkan.
Memahami hukum aqiqah dalam Islam membuat kita semakin menyadari hikmahnya:
✨ Bentuk syukur atas kelahiran anak
✨ Menghidupkan sunnah Rasulullah
✨ Sarana berbagi kebahagiaan
✨ Doa dan harapan kebaikan untuk anak
Aqiqah juga menjadi simbol kegembiraan atas lahirnya generasi Muslim baru.
Menyiapkan aqiqah sesuai ketentuan tentu membutuhkan waktu dan perhatian. Mulai dari memilih hewan yang sesuai syariat hingga proses pengolahan dan distribusi.
Jika Ayah Bunda ingin aqiqah yang praktis, syar’i, dan terpercaya, Aqiqah Nurul Hayat siap membantu.
Sebagai pelopor aqiqah siap saji terbesar di Indonesia, dengan 52 cabang dan melayani lebih dari 100 kota sejak 2001, Aqiqah Nurul Hayat menghadirkan:
✅ Hewan sesuai syariat
✅ Proses penyembelihan halal
✅ Masakan lezat dan higienis
✅ Layanan cukur rambut bayi
✅ Pengantaran tepat waktu
Ayah Bunda bisa fokus pada kebahagiaan bersama buah hati, tanpa khawatir soal teknis pelaksanaan.
Kini Ayah Bunda telah memahami bahwa hukum aqiqah dalam Islam adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu. Ibadah ini bukan sekadar tradisi, tetapi wujud syukur dan cinta kepada Allah SWT atas kelahiran sang buah hati.
Semoga Allah SWT menerima ibadah aqiqah kita dan menjadikan anak-anak kita generasi yang saleh dan salihah, penyejuk hati orang tua, serta pembawa keberkahan bagi keluarga dan umat.
Aamiin ya Rabbal Alamin.