Benarkah Aqiqah Harus Hari Ketujuh? Bagaimana Jika 40 Hari?
Ayah Bunda yang dirahmati Allah, kelahiran buah hati adalah nikmat luar biasa yang patut kita syukuri. Salah satu bentuk syukur yang dianjurkan dalam Islam adalah melaksanakan ibadah aqiqah.
Namun sering muncul pertanyaan:
- Apakah aqiqah harus tepat hari ketujuh?
- Bagaimana jika baru bisa melaksanakan pada hari ke-40?
- Apakah waktu aqiqah 40 hari tetap sah menurut syariat?
Mari kita bahas secara tuntas berdasarkan pendapat para ulama.
Waktu Terbaik Aqiqah Menurut Sunnah
Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa hari ketujuh setelah kelahiran adalah waktu yang paling utama (afdhal) untuk melaksanakan aqiqah.
Mengapa Hari Ketujuh?
Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:
- Bayi telah melewati fase awal kehidupannya
- Kondisinya lebih stabil
- Bertepatan dengan momen pemberian nama dan pencukuran rambut
Sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hari ketujuh menjadi simbol awal fase kehidupan yang lebih sempurna.
Cara menghitungnya:
Hari kelahiran dihitung sebagai hari pertama. Jika bayi lahir hari Sabtu, maka hari ketujuh jatuh pada hari Jumat.
Lalu, Bagaimana dengan Waktu Aqiqah 40 Hari?
Inilah yang sering menjadi pertanyaan banyak orang tua.
Apakah aqiqah yang dilakukan pada hari ke-40 sah?
Jawabannya: SAH dan BOLEH.
Mayoritas ulama menyatakan bahwa jika tidak bisa dilakukan pada hari ketujuh, maka aqiqah tetap boleh dilaksanakan setelahnya.
Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa jika aqiqah dilakukan pada hari ke-8, ke-10, atau setelahnya, maka tidak mengapa.
Artinya, pelaksanaan aqiqah pada:
- Hari ke-14
- Hari ke-21
- Hari ke-40
- Bahkan di waktu lain setelahnya
Tetap sah dan diperbolehkan.
Mengapa Ada yang Menyebut 40 Hari?
Dalam sebagian tradisi masyarakat Muslim, angka 40 sering dijadikan patokan berbagai momentum. Namun perlu dipahami:
- Tidak ada dalil khusus yang menetapkan hari ke-40 sebagai waktu utama aqiqah
- Yang utama tetap hari ketujuh
- Tetapi setelah itu bersifat fleksibel
Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan.
Jika ada kendala seperti:
- Keterbatasan dana
- Kondisi kesehatan ibu dan bayi
- Kesibukan atau faktor teknis
Maka melaksanakan aqiqah di hari ke-40 tetap sah dan berpahala.
Pendapat Ulama tentang Fleksibilitas Waktu Aqiqah
Secara umum ada beberapa pandangan:
1️⃣ Mazhab Syafi’i dan Hanbali:
Aqiqah boleh dilakukan setelah hari ketujuh jika terlewat.
2️⃣ Sebagian ulama menyebutkan urutan anjuran:
Hari ke-7, jika tidak bisa maka hari ke-14, lalu ke-21.
3️⃣ Jika tetap belum mampu, maka kapan saja setelahnya tetap diperbolehkan hingga orang tua mampu.
Yang terpenting adalah niat dan kemampuan.
Kesimpulan: Apakah Waktu Aqiqah 40 Hari Sesuai Sunnah?
✔️ Hari ketujuh adalah waktu paling utama
✔️ Tidak ada kewajiban harus tepat hari ketujuh
✔️ Aqiqah 40 hari tetap sah dan diperbolehkan
✔️ Tidak berdosa jika terlambat karena alasan tertentu
Jadi Ayah Bunda tidak perlu khawatir. Jika baru mampu melaksanakan aqiqah di hari ke-40, insya Allah tetap sah dan bernilai ibadah.
Solusi Praktis Melaksanakan Aqiqah Kapan Pun Siap
Kesibukan dan kondisi keluarga seringkali membuat pelaksanaan aqiqah tertunda. Jika Ayah Bunda ingin melaksanakan aqiqah yang:
✔️ Sesuai syariat
✔️ Hewan sehat dan cukup umur
✔️ Proses higienis
✔️ Siap dibagikan
Aqiqah Nurul Hayat siap membantu.
Sebagai pelopor aqiqah siap saji terbesar di Indonesia sejak 2001:
- 52 cabang aktif
- Melayani 100+ kota
- Dipercaya ribuan keluarga dan public figure
Kami siap membantu Ayah Bunda menunaikan aqiqah dengan praktis, amanah, dan penuh keberkahan.
Penutup & Doa
Ayah Bunda, aqiqah adalah wujud cinta dan syukur kepada Allah atas kelahiran buah hati. Melaksanakannya, baik hari ketujuh maupun hari ke-40, adalah bentuk ikhtiar mengikuti sunnah Nabi SAW.
Semoga Allah SWT memberkahi keluarga Ayah Bunda, menjadikan buah hati tumbuh sebagai generasi sholeh dan sholehah, serta menerima setiap amal ibadah kita. Aamiin